Seni Benjang Bandung

2838535649_98f39da46bBenjang, salah satu kesenian tradisional dari Bandung yang hampir terlupakan. Benjang disebut-sebut berasal dari kecamatan Ujungberu dan Cibiru, Bandung Timur. Tidak ada yang tahu pasti kapan seni Benjang lahir, namun seni Benjang mulai dikenal secara luas pada tahun 1920-an. Awal mula seni Benjang lahir dari seni bela diri tradisional Indonesia, namun karena pada masa penjajahan Hindia Belanda melarang adanya ilmu beladiri, maka secara sembunyi-sembunyi seni Benjang berkembang dengan berkedokan kesenian dan olahraga lewat jalur agama. Karena itu banyak seni Benjang yang berkembang dan hidup di pesantren.

Benjang dinilai bisa menjadi media untuk mendekatkan diri dengan sang pencipta, dan sebelum pertunjukan dimulai para pebenjang selalu melakukan upacara baca doa untuk memohon keselamatan tanpa ada gangguan selama pertunjukan. Selain sebagai seni beladiri, Benjang juga termasuk dalam seni pertunjukkan rakyat.

2838535317_100437e706Adapun alat yang digunakan dalam pertunjukkan Benjang adalah gendang atau kendang, terbang, kempring, kecrek, pingprung, terompet, kempul dan bedung. Dalam pertunjukkannya Benjang diiringi dengan lagu Sunda seperti lagu Rancik Manik, Ela-Ela, Renggong Gancang dan Sorong Dayung di mana pemain Benjang melakukan gerakan-gerakan yang disebut dogong, yakni antar pemain saling mendorong dengan menggunakan alu (antan atau alat penumbuk padi) dalam arena dan yang keluar dari arena maka dinyatakan kalah. Kesenian Benjang ini biasanya diadakan dalam rangka upacara khitanan, perkawinan, memperingati 40 hari kelahiran bayi, maulid nabi, syukuran panen padi dan lainnya.

Selain gerakan dogong ada pula seredan, yakni permainan saling mendesak namun tanpa alat, pemain akan dinyatakan kalah jika keluar dari arena. Setelah itu permainan berubah menjadi adu mundur dan saling mendesak menggunakan pundak hingga lawan keluar dari arena dan dinyatakan kalah. Dalam permainan ini tidak diperkenankan untuk menggunakan tangan, namun karena banyaknya pelanggaran terjadi pada saat situasinya terdesak, maka permainan adu mundur berganti menjadi permainan adu munding yakni permainan yang lebih mengarah kepada gulat sehingga teknik-teknik gerakan seperti menghimpit (piting) dan gerakan-gerakan pencak silat mulai dipergunakan.

Dalam permainan adu munding, pemain akan dinyatakan kalah apabila pebenjang terlentang dan tidak mampu lepas dari himpitan lawannya. Luas arena yang digunakan berdiameter sekitar 5-9 meter. Yang istimewa dari seni Benjang adalah teknik-teknik kunciannya yang mematikan, cerdik, licik dan unik. Sebagai contoh jika pebajang akan dijatuhkan lawannya, maka pebajang tersebut dengan cepat akan ngabeulit kaki lawan untuk menjatuhkan lawan lalu mengunci lawan tersebut hingga tidak berkutik.Tidak mudah untuk menjadi seorang pebenjang. Selain dituntut untuk adu strategiĀ  dan keterampilan agar mampu melumpuhkan lawan dengan cara yang mematikan, seorang pebenjang juga harus bersedia membuat surta pernyataan untuk tidak melayangkan tuntutan apabila seorang pebenjang mengalami cedera fatal. Kini warga Ujungberu giat melesatrikan seni Benjang ini agar tak lekang oleh waktu šŸ™‚

 

 

Referensi :

http://www.tradisikita.my.id/2014/11/seni-benjang-kesenian-tradisi.html

http://www.bandungtourism.com/tododet.php?q=Benjang

http://mygetinfo.com/2012/05/apa-itu-seni-sunda-benjang/

 

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *